Monday, December 6

Mengenal Konsep Child Free yang Mulai Diterapkan Anak Muda Indonesia

Child free tiba-tiba menjadi populer dalam perbincangan banyak orang. Tentunya hal ini akan memunculkan berbagai reaksi dari lapisan masyarakat, baik yang pro maupun kontra. Ada pihak-pihak yang menentang, namun tidak sedikit juga yang mendukung konsep tersebut.

Tetapi sebenarnya apa yang dimaksud dengan child free itu? Apakah akan mempengaruhi kehidupan para suami istri?

Apa yang dimaksud child free

Cambridge Dictionary menjelaskan jika child free merupakan sebuah konsep yang dipilih oleh seseorang untuk tidak mempunyai anak atau situasi yang membuat mereka memutuskan hidup tanpa kehadiran anak dalam hidupnya.

Sebenarnya child free sendiri bukanlah hal baru dan merupakan sesuatu yang lumrah di beberapa negara maju. Seperti Amerika, menurut riset yang pernah dilakukan, sekitar 15% wanita serta 24% pria di negara tersebut memilih untuk tidak mempunyai anak.

Child free bukanlah mengenai salah atau benar, walau ada seorang ahli psikolog di Amerika yang mengatakan jika sudah sangat melekat di benak semua orang, apabila Anda sudah siap menikah berarti harus memiliki anak.

Sejujurnya stigma ini merupakan hal yang terkadang dihindari kaum istri, karena pertanyaan “kapan kamu punya anak?” akan membuat sisi psikologi mereka menjadi tertekan hingga akhirnya merasa jika tidak dapat memberikan anak, artinya belum menjadi istri yang berbakti pada suami.

Latar belakang munculnya konsep child free

Seorang sosiolog dari University of Maine yang bernama Amy Blackstone mengatakan, jika sebenarnya banyak sekali faktor mengapa pasangan atau seseorang memilih tidak memiliki anak. Seperti contohnya, pasangan A merasa jika kehadiran seorang anak dapat merubah kehidupan mereka.

Kemudian ada juga yang memilih child free agar dapat lebih dekat dengan pasangan dan tidak ingin keromantisannya berkurang karena kehadiran seorang anak. Selain itu, disebabkan karena faktor finansial, pasalnya mereka berpikir dengan hadirnya buah hati pasti akan membutuhkan biaya yang besar.

Lalu ada juga faktor yang disebabkan oleh kesehatan, mereka khawatir jika nantinya memiliki anak tidak dapat membagi waktu antara merawat buah hati dan diri sendiri. Beberapa yang lain juga didasari oleh masa lalunya yang tidak menyenangkan, dimana mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang tuanya dan membuat mereka takut untuk memiliki seorang anak, karena khawatir akan memperlakukan anaknya sebagaimana saat dia diasuh oleh orangtuanya.

Alasan paling ekstrim adalah tidak ingin bentuk tubuhnya berubah, karena memang jika seorang wanita hamil pastinya akan melalui beberapa fase. Setelah mengandung selama kurang lebih 9 (sembilan) bulan, selanjutnya adalah fase persalinan atau melahirkan, lalu menyusui.

Fase-fase dimana seorang ibu akan memiliki emosi yang tidak stabil, bukan hanya dikarenakan harus mengurus anak, tetapi juga memikirkan bentuk tubuhnya yang pasti tidak akan mudah untuk menurunkan berat badannya.

Perlu Anda ketahui, jika pasangan yang memutuskan untuk child free pastinya sudah memikirkan hal tersebut secara matang. Karena memang pada dasarnya setiap keputusan selalu dibarengi dengan tanggung jawab atas pilihannya.

Apakah child free mempengaruhi kesehatan

Beberapa orang termasuk Anda pasti bertanya-tanya apakah seseorang yang memutuskan untuk tidak hamil dan melahirkan dapat mempengaruhi kesehatannya?

Sejujurnya belum ada satupun catatan medis yang mendukung hal tersebut, jadi sebenarnya tidak masalah jika memang Anda memilih untuk child free. Bahkan di dunia medis, mereka memiliki sebuah metode sterilisasi.

Tujuannya tentu untuk melakukan pencegahan kehamilan permanen. Praktik sterilisasi ini merupakan hal yang normal dan tentunya tidak memiliki resiko atau efek samping. Berbeda dengan pasangan yang menggunakan alat kontrasepsi, karena terkadang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Seperti beberapa contoh berikut :

  1. Penggunaan alat kontrasepsi oral, akan memberikan efek kardiovaskular seperti serangan jantung serta stroke. Resiko ini lebih besar dibandingkan jika Anda adalah seorang perokok.
  2. Adanya efek metabolik, yaitu dimana komponen progestin yang terkandung dalam alat atau produk kontrasepsi akan menurunkan kadar kolesterol baik didalam tubuh dan akan meningkatkan kolesterol jahat.
  3. Penggunaan alat kontrasepsi secara oral akan meningkatkan resiko terjadinya tumor yang disebut neoplasma dan membuat lambung mengalami pendarahan serius.
  4. Kontrasepsi yang berbentuk pil (Pil KB) jika Anda konsumsi dalam jangka waktu yang panjang akan dapat memicu gangguan empedu.
  5. Alat kontrasepsi yang disebut dengan IUD (intrauterine device) atau spiral, jika digunakan secara jangka panjang dapat meningkatkan resiko terjadinya radang panggul, adanya masalah di saluran tuba dan menimbulkan luka di uterus.

Itulah sedikit informasi bagi Anda mengenai child free beserta dengan faktor-faktor penyebab seseorang atau pasangan memutuskan untuk tidak memiliki anak dalam kehidupan berumah tangga. Apapun keputusan Anda yang saat ini telah menikah atau akan menikah, jika memang ingin menjalankan konsep ini, disarankan untuk berdiskusi. Baik dengan pasangan masing-masing, bila perlu menemui penasehat pernikahan, jangan sampai kalian menyesalinya.